Puasa Ekadasi dilihat dari akar katanya maka Ekadasi berasal dari kata Eka dan Dasi. Eka berarti satu dan Dasa/dasi berarti sepuluh. Ekadasi adalah puasa yang sangat keramat dilaksanakan pada hari ke sebelas dihitung mulai dari sehari setelah purnama (bulan purnama) atau tilem  (bulan mati/gelap) sebagai hari yang pertama dan lusa dihitung sebagai hari yang ke dua dan seterusnya hingga hari ke sebelas. Bagi yang kesulitan mengetahui Hari Puasa Ekadasi, dapat membeli kalender terbitan Paramita. Pada kalender ini sudah disebutkan tanggal untuk puasa ekadasi. Kalau kalender yang dibuat oleh Bambang Gede Rawi hanya disebutkan hari pertama hingga hari ke sebelas.

 Pada hari ke sebelas ini umat Hindu dianjurkan untuk melakukan puasa Ekadasi karena puasa ekadasi ini bila dilaksanakan secara teratur akan dapat menghilangkan semua dosa dan kebodohan dalam diri manusia sekaligus merubah nasib hidupnya, bahkan dapat meningkatkan kekuatan batin manusia, hingga ke tingkat yang paling tinggi yakni tingkatan bakti pada Hyang Widhi. Bagi yang tidak kuat puasa tanpa makan dan minum, dapat memakan buah-buahan, umbi-umbian , sayur-sayuran dan minum susu.

 Puasa ekadasi ada banyak macamnya. Oleh karena itu agar mendapat manfaat yang maksimal,  tata cara puasa harus disesuaikan dengan tata cara masing-masi ekadasi tersebut. Menurut A.K. Candrawati dalam bukunya yang berjudul “Ekadasi bimbingan rohani Hindu dalam berpuasa” , puasa ekadasi ada 26 macam yaitu:

  1. Utpanna
  2. Moksada
  3. Saphala
  4. Putrada
  5. Sat-tila
  6. Jaya
  7. Vijaya
  8. Amalaki
  9. Papamocani
  10. Kamada
  11. Varutini
  12. Mohini
  13. Apara
  14. Nirjala
  15. Yogini
  16. Padma
  17. Kamika
  18. Putrada
  19. Aja
  20. Parivartini
  21. Indira
  22. Papangkusa
  23. Rama
  24. Haribodini
  25. Padmini
  26. Parama

 

Dari ke 26 macam puasa ekadasi ini memiliki sejarah masing-masing. Untuk mempersingkat tulisan ini maka berikut diberikan satu contoh sejarah puasa ekadasi utpanna yang diringkas dari buku tersebut diatas sbb:

 

Pada jaman Satya Yuga hiduplah seorang raksasa yang bernama Mura. Mura mempunyai kesaktian yang luar biasa hasil dari puasa yang dilakukannya, sehingga dia dapat menggempur planet-planet surga.

 

Para dewa dan penghuni surga tidak dapat menandingi kehebatan dari raksasa Mura. Kemudian para dewa pergi ke planet surga yang tertinggi, tempat dewa Brahma tinggal, untuk meminta perlindungan. Dewa Brahma beserta para dewa lainnya lalu melakukan puasa dan meditasi pada Sri Wisnu dalam bentukNya sebagai penguasa Alam semesta yang disebut Jagannatha. Hyang Widhi yang tidak dapat didekati oleh para dewa sekalipun, atas karunia yang tiada  sebab muncul dihadapan mereka dan sendirian menghadapi raksasa Mura. Namun karena raksasa Mura bukan titisan dari penghuni dunia rohani, maka Jagannatha tidak membunuh dengan tanganNya sendiri, tapi melalui tenagaNya. Beliau menciptakan pengaruh maya, yang membuat semua mahluk ingin beristrirahat.

 

Jangannatha pergi ke goa himawati yang berdiameter 96 mil. Disana Beliau berpura-pura tidur. Raksasa Mura lalu mendekati Beliau dan mencoba membunuhNya, pada saat itu muncul sesosok wanita yang cantik tapi beringas dari tubuh Jagannatha. Wanita itu langsung memenggal kepala Mura hingga dia mati. Wanita itu tidak lain adalah Ekadasi, wujud dari kekuatan Hyang Widhi untuk menghapus  kepribadian dosa dialam fana. Untuk menghormati jasa dari Ekadasi, Jagannatha meluluskan permohonan ekadasi agar dapat muncul 2 kali dalam sebulan, guna menolong mahluk hidup dari penderitaan para dewa dan penghuni surga dihapuskan oleh ekadasi  dan mereka dapat hidup tenang, bebas dari gangguan raksasa Mura.

 

Daftar pustaka:

 

  1. Ekadasi bimbingan rohani Hindu dalam berpuasa oleh Dra. A.K. Candrawati,Jakarta, Pustaka Sinar Agung, 1996.
  2.